This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Translate

Selasa, 26 Agustus 2014

ISTANA GIRI DI GUNUNGSARI DAN TAMBAKBOYO

ISTANA GIRI DI GUNUNGSARI DAN TAMBAKBOYO

Sebagai negara yang merdeka, Giri belum mendapat pengakuan dari majapahit bahkan Majapahit mengadakan serangan ke Giri. Ketika Sunan Giri Prabu Satmoto masih hidup, penyerangnya balik masuk Islam. Dia adalah Jagat Mutaalim. Pada masa selanjutnya, Istana Giri Kedaton diserbu pasukan Terung yakni sisa-sisa laskar Majapahit, Sunan Dalem Wetan mengungsi ke Gummeno. Setelah musuh kembali pulang, Sunan Dalem kembali lagi ke Giri.
Dari sini timbul pertanyaan: Siapakah pengganti Sunan Giri (Prabu Satmoto). Dimanakah letak Istana mereka?.
1. Sunan Giri (1487-1506 M)
2. Sunan Dalem (1506 -1545 M)
3. Sunan Sedomargi (1545 -1548 M)
4. Sunan Prapen (1548 – 1605 M)
5. Panembahan kawis Guwo (1605-1614 M)
6. Panembahan Agug (1614 – 1638 M)
7. Panembahan Mas Winoto (1638- 1660 M)
8. Pangeran Puspohita (1660 – 1680 M)
9. Pangeran Wirayadi ()1680 – 1703 M
10. Pangeran Singanagoro (1703 – 1725 M)
11. Pangeran Singosari (1725 – 1743 M)

Suatu hal yang perlu dicatat pada kekuasaan tersebut bahwasannya Sunan Prapen membawa Giri ke puncak kebesarannya. Pengaruhnya sampai ke Indonesia Timur. Nama lain dari Sunan Prapen adalah ”Raden Fatihal”  berasal dari kata Patih I Halu. Gelar ini mengambil dari gelar putra mahkota kedua. Dalam tradisi Jawa sebelum Islam, Putra mahkota pertama bergelah Patih I Hino. Putra mahkota kedua bergelar Patih I Halu, dan Putra mahkota ketiga bergelar Patih I Sirikan. Memang benar, ketika Sunan Dalem Wetan meninggal dunia, Sunan Sedomargi sebagai anak lelaki pertama menggantikan sebagai sunan. Namun setelah Sunan Sedomargi meninggal, Sunan Prapen adik Sunan Sedomargi menggantikan menjadi Raja. Kebesaran Sunan Prapen ini berpengaruh sampai ke nusantara bagian timur, bahkan raja-raja Pajang dan Mataram minta restu ke Sunan Prapen untukmendapatkan pengabsahan sebagai Raja Jawa.

Pada masa Panembahan Agung, Giri ditaklukan oleh Sultan Agung dari Mataram. Ketika Giri akan bangkit kembali dibawah pimpinan pangeran Puspohita (1660 – 1680), Mataram bersama dengan Belanda dan Dinasti Husein dari Terung berkerja keras dan berhasil menaklukan Giri. Selanjutnya pusat pemerintahan berpindah ke Grissee. Pada saat itu, Grissee tempatnya berada di timur Istana Giri Kedaton, makanama ituberubah menjadi Dalem Wetan. Dalam bahasa Indonesia, wetan berarti timur, sedang dalem berarti Istana.

Secara teoritis, Zainal Abidin sebagai putra mahkota hidup berada di timur istana Giri Kedaton. Setelah Prabu Satmoto meninggal, Zainal Abidin bertahta di Istana Giri Kedaton di atas bukit.Ketika berkuasa, Zainal Abidin diserang oleh pasukan Terung yang dipimpin oleh Adipati Sengguruh sebagai sisa dari pasukan Majapahit hingga dia mengungsi ke Gumeno. Namun naas bagi pasukan Terung harus mengakui kegagahan Giri. Walaupun demikian, Istana Giri Kedaton pernah diduduki oleh pasukan Terung sehingga Zainal Abidin merasa enggan untuk kembali ke Istana Giri Kedaton. Untuk itu, dia memindahkan istananya ke Gunungsari, Tambakboyo, sebuah tempat sisi tenggara dari Dalem Wetan. 

Bagaimana perkembangan dari Gunungsari? Rupanya istana ini belum berkembang dengan baik karena masih banyak musuh yang mengincarnya sampai Zainal Abidin meninggal dunia. Uniknya istana pindah lagi ke Gunung Tambak Boyo. Istana Giri Tambakboyo ini merupakan zaman keemasan Giri era Sunan Prapen. Toponim penting yang tersisa adalah Tambak Boyo, Alun-alun, dan Pasar Gede. Ketika Sunan Prapen berkuasa, Istana Giri berada di Tambakboyo. Sekarang, tempat ini terletak di selatan Alun-alun Sidomukti, sedang Pasar Gede berada di barat Alun-alun.
Nurhadi menulis : Tata ruang pemukiman Giri, sebuah Hipotesa atau hasil penelitian di Giri, Jawa timur tahun 1982. Karya itu dimuat dalam Rapat Evaluasi hasil penelitian Arkeologi I 1982. Halaman 313 mengemukakan lapisan inti dan pendukung pemukiman Giri dengan nama-nama kuno sebagai berikut :
1.    Inti Pemukiman Giri : Kedaton, alun-alun, dan Pasar Gede.
2.    Sisi timur terdiri dari : Dalem Wetan, Kepandeyan, dan Tirman
3.    Sisi selatan terdiri dari :Punggawan, Kemodinan, dan Tambakboyo
4.    Sisi barat terdiri dari :Pedukuhan, Kebondalem, dan Kebonan
5.    Sisi utara terdiri dari : Jraganan, Kajen Kedahanan, dan Kawisanyar

Jika ditilik dari kebesaran masa keeasan Sunan Prapen, maka Alun-alun dan Pasar Gede dimunculkan pada masa Sunan Prapen sebagai pengguasa Giri keempat.. Sunan Giri Prabu Satmoto beristana di Giri Kedaton. Sunan Dalem Wetan beristana di Gunungsari, Sedang Sunan Sedomargi dan Sunan Prapen dimana?

Nampaknya ketika Sunan Dalem Wetan beristana di Gunungsari dan menghadap ke timur, putra mahkota pertama bernama Sunan Sedomargi dan Putra mahkota kedua bernama Sunan Prapen. Ketika sudah berumah tangga, Sunan Sedomargi berada di selatan Gunung Sari atau di sebelah kanan Istana Ayahnya, sedang Sunan Prapen berada di barat istana, atau belakang istana. Tempat ini bernama Tambakboyo. Jika benar demikkian, maka Gunung Tambakboyo itu berada di selatan Alun-alun. Maka tepatlah bila Istana Sunan Prapen ketika menjadi penguasa menghadap ke utara atau Laut Jawa, sedang tepat dimuka istananya terdapat Alun-alun dan Pasar Gede.

Rupanya pada masa Sunan Prapen ini, kota sedang diperluas. Perluasan pertama, bahwasannya makam Sunan Giri diberi cungkup yang bagus. Keduamemindahkan masjid dari Kabunan ke Giri Gajah, sedang masjid Kedaton digunakan tempat pendidikan pesantren, industri logam dan senjata diperbesar di Kepadeyan. Tempat pertahanan juga diperbesar dengan munculnya toponim Cumpleng tempat mengasah senjata. Perekonomian dikembangkan dengan munculnya Pasar Gede. Hubungan dengan dunia luar juga ditingkatkan dengan munculnya Sumur Jogo Tamu atau tempat istirahat tamu, dan ruang ruang makan para tamu juga ditempatkan pada posisinya yang tepat dengan nama “Telaga Dahar” di selatan Tambakboyo. Bahkan hubungan dengan luar pulau juga diperluas dan diberi tempat dengan nama Kemodinan dan Puhawang (bukan nama Punggawan seperti yang disebut oleh Nurhadi). Kemodinan berasal dari kata Kemudi (bukan modin). Puhawang adalah para juru mudi kapal. Nama Puhawang ini sebagai ruang untuk bertempat tinggal. Wilayah Kemodinan dan Puhawang dilengkapi dengan dua buah sumur.

-Wahyu Firmansyah-
@Fireboysyah

Sumber :
Grissee Tempo Doeloe
Hal 43-46

Rabu, 13 Agustus 2014

SITI FATIMAH BINTI MAIMUN

SITI FATIMAH
BINTI

MAIMUN




Bukti tertua kehadiran huruf Arab pada fase awal Islam di Nusantara ditemukan di sebuah makam di desa Leran, 8 Km utara kota Gersik Jawa Timur. Huruf itu terdapat pada Nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah.  Beliau wafat pada hari Jumat 12 Rabiulawal 475 Hijriyah / 1082 Masehi.

Penanggalan itu menunjukkan nisan dipusara anak perempuan Maimun ini merupakan bukti tertua penggunaan tulisan Arab di Asia Tenggara. Demikian di tuliskan pada buku panduan pameran Budaya Islam di Aula Institut Agama Islam Negeri (IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta), pada tanggal 11-17 September 1995.

Inskripsi nisan Fatimah terdiri atas tujuh baris, di tulis dengan huruf Arab dengan gaya Kufi, salah satu ragam kaligrafi, dengan tata bahasa Arab yang baik. Nisan ini juga memuat ayat Al-Qur’an, antara lain surat Al-Rahman ayat 28-27 dan surat Ali Imron ayat 185.
Bersama nisan Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabiulawal 822 H / 8 April 1419 M, juga dimakamkan di Gresik, mengukuhkan pendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui Persia dan Gujarat. Ada juga sarjana yang mengatakan batu nisan tersebut mirip kuil tembok Hindu di Gujarat.

Prof. DR. PA. Hoesien Djajadiningrat menyatakan, “Bukti agama Islam masuk ke Nusantara dari Iran (persia), ialah ejaan dalam tulisan Arab, baris di atas, di bawah, dan di depan disebut jabar, Jer dan Pes. Ini adalah bahasa Iran. Kalau menurut bahasa Arab, ejaannya adalah Fathah, Kasrah dan Dhammah. Begitu pula huruf Sin yang tidak bergigi, sedangkan huruf Sin dalam bahasa arab adalah  bergigi, ini adalah salah satu bukti yang terang.”

Siapakah Fatimah binti Maimun? Ahli sejarah Cirebon abad ke 17, Wangsakerta, sebagai pangeran ketiga keraton pernah melakukan Gotrasawala (musyawarah kekeluargaan) ahli sejarah se Nusantara menelusuri silsilah para Syekh, guru agama dan Sultan keturunan Nabi Muhammad SAW yang menjadi tokoh penyebar agama Islam di Nusantara. Wangsakerta berdiskusi dengan Mahakawi sejarah dari Pasai, Jawa Timur, Cirebon, Arab, Kudus, dan Surabaya, serta ulama dari Cirebon dan Banten.

Nasab Siti Fathimah binti Maimun Rasulullah Muhammad SAW berputri Fatimah yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib, berputra Husaian, berputra Zainal Abidin, yang menurunkan Muhammad Al-Baqir, bapak Ja’far Shadiq, berputra Ali Al-Uraidi, ayah Sulaiman Al-Basri, yang menetap di Persi, Sulaiman Abu Zain Al-Basri, yang menurunkan Ahmad Al-Baruni, ayah Sayyid Idris Al-Malik, yang berputra Muhammad Makdum Sidiq, yang terakhir ini adalah ayah Hibatullah, kakek Fatimah binti Maimun.Masih menurut penelusuran itu, Siti Fatimah menikah dengan Pria bernama Hassan yang berasal dari Arab bagian selatan.

Tentang Fatimah binti Maimun ini, pasangan peneliti H.J. de Graaf dan Th. Piqeaud menghubungkan-nya dengan tradisi Lisan Jawa, tentang putri Leran atau putri Dewi Swara. Dalam kaitan ini, kedua pakar Belanda ini juga menerima anggapan bahwa Gresik merupakan pusat tertua agama Islam di Jawa Timur.

Dengan demikian, tidak mustahil Fatimah binti Maimun itu pendakwah Islam pertama di Tanah Jawa, bahkan sangat boleh jadi di Nusantara. Namun ada penulis yang menyatakan, kakeknya pedagang dari Timur tengah, Hibatullah, menetap di Leran, dan menikah dengan wanita setempat, bahkan di duga sudah membangun masjid.

Apakah faktor kebetulan bila desa tempat Fatimah binti Maimun di makamkan itu bernama Leran? Tentu saja hal ini telah menjadi perbincangan para ahli sejarah sejak lama.
Cendikiawan Muslim Oemar Amin Hoesin, misalnya berpendapat, di Persia itu ada satu suku namanya “Leren”, suku inilah yang mungkin dahulu datang ke tanah Jawa, sebab di Giri ada kampung Leren juga namanya. Begitu pula, ada suku Jawi di Persia. Suku inilah yang mengajarkan huruf Arab yang terkenal di Jawa dengan huruf Pegon.

Dalam hal ini, Moh. Hari Soewarno mencatat, Leran sebenarnya nama suku di Iran. mungkin Fatimah berasal dari Parsi, sebab data itu bisa dibandingkan dengan data lain di Iran sendiri. Di sanapun terdapat desa yang namanya Jawi, sehingga dapat di tarik kesimpulan, pada abad ke ke 11 itu sudah ada lalu lintas dagang antara negeri kita dengan negeri Parsi. Peristiwa itu pasti terjadi berulang-ulang serta di mengerti banyak orang, baik di Jawa maupun di Iran.

Menurutnya, orang Parsi, yang datang ke Jawa merasa kerasan, lalu menetap. Sebaliknya orang Jawa yang merasa senang di Iran lalu menetap di sana dan menamai desanya Jawi – untuk  menunjukkan perkampungan orang Jawa disana..

Jadi, dapat disimpulkan, Fatimah binti Maimun adalah orang Parsi yang menetap di Jawa (tepatnya di Gresik), lalu perkampungannya disana hingga sekarang terkenal sebagai desa Leran. Lebih jauh diketahui, di Kediri pada Abad ke 11 sudah banyak orang membuat rumah indah dengan genting warna-warni, kuning dan hijau. Gaya rumah demikian banyak kita jumpai di Parsi.

Apakah juga faktor kebetulan jika dari tanah Persia, Fatimah binti Maimun merantau ke pelabuhan Gresik, kemudian tinggal serta wafat dan dimakamkan di sana? Bersama nisan ulama Persia Maulana Malik Ibrahim, yang berangka tahun 882 H / 1419 M, sedang Nisan Fatimah yang berangka 475 H / 1082 M dilihat sebagai bukti bahwa pada waktu itu banyak orang Gresik yang telah menganut agama Islam. Bahkan sebelum kedatangan para Wali periode pertama, sudah banyak pedagang Islam di tanah Jawa. Mereka memilih daerah pelabuhan Gresik, yang saat itu sedang dalam kekuasaan kerajaan Majapahit, sebagai tempat tinggal mereka.
Bersama Tuban dan Jepara, pelabuhan Gresik sejak zaman Prabu Airlangga (1019-1041 M) bertahta, telah terjalin hubungan dagang dengan negara-negara manca. Di pantai Tuban banyak ditemukan kepingan uang emas dinar  Arab bertarikh abad ke 9 – 10, yang menunjukkan bahwa lalu lintas niaga antara Jawa dan Timur Tengah sudah pesat.

Akan halnya kedudukan Gresik yang istimewa itu, ahli obat-obatan bangsa Portugal, Tom Pires, yang menyusuri utara pantai Jawa pada Maret sampai Juni 1513, mencatat dalam jurnalnya, “Mereka mulai berdagang di negeri itu dan bertambah kaya. Mereka berhasil membangun masjid dan Mullah, para ulama di datangkan dari Luar.”

SILSILAH
“SITI FATIMAH BINTI MAIMUN”

1.         Siti Fatimah binti
2.         Maimun Sultan Mahmud Syah Alam) bin
3.        Hibatullah bin
4.         Muhammad Makdum Sidiq bin
5.         Sayyid Idris al-Malik bin
6.         Ahmad al-Baruni bin
7.         Sulaiman Abu Zain al-Basri bin
8.         Ali Uraidhi bin
9.         Ja'far ash-Shadiq bin
10.     Muhammad al-Baqir bin
11.    Ali Zainal Abidin bin
12.    Imam Husain bin
13.   Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra bin
14.   NABI MUHAMMAD SAW


-Wahyu Firmansyah-
@Fireboysyah

Sumber :

Dikelolah dari berbagai data

Minggu, 03 Agustus 2014

AL- HABIB AL-QUTUB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD ASSEGAF

AL-HABIB AL-QUTUB
ABU BAKAR
BIN

MUHAMMAD ASSEGAF



Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Muhammad Assegaf lahir di kota Besuki, Jawa Timur, pada tahun 1285 H. Semenjak kecil beliau sudah ditinggal oleh ayahnya yang wafat di kota Gresik. Pada tahun 1293 H, Habib Abubakar kemudian berangkat ke Hadramaut karena memenuhi permintaan nenek beliau, Syaikhah Fatimah binti Abdullah ‘Allan.

Beliau berangkat kesana ditemani dengan Al-Mukarram Muhammad Bazmul. Sesampainya disana, beliau disambut oleh paman, sekaligus juga gurunya, yaitu Abdullah bin Umar Assegaf, beserta keluarganya. Kemudian beliau tinggal di kediaman Al-Arif Billah Al-Habib Syeikh bin Umar bin Saggaf Assegaf.

Di kota Seiwun beliau belajar ilmu figih dan tasawuf kepada pamannya Al-Habib Abdullah bin Umar Assegaf. Hiduplah beliau dibawah bimbingan gurunya itu. Bahkan beliau dibiasakan oleh gurunya untuk bangun malam dan shalat tahajud meskipun usia beliau masih kecil. Selain berguru kepada pamannya, beliau juga mengambil ilmu dari para ulama besar yang ada disana. Diantara guru-guru beliau disana antara lain :

Al-Habib Al-Qutub Ali bin Muhammad Alhabsyi

Al-Habib Muhammad bin Ali Assegaf

Al-Habib Idrus bin Umar Alhabsyi

Al-Habib Ahmad bin Hasan Alatas

Al-Habib Al-Imam Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur (Mufti Hadramaut saat itu).

Al-Habib Syeikh bin Idrus Alaydrus

Al-Habib Al-Qutub Ali bin Muhamad Alhabsyi sungguh telah melihat tanda-tanda kebesaran dalam diri Habib Abubakar dan akan menjadi seorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi. Al-Habib Ali Alhabsyi berkata kepada seorang muridnya, “Lihatlah mereka itu, 3 wali min auliyaillah, nama mereka sama, keadaan mereka sama, dan kedudukan mereka sama. Yang pertama, sudah berada di alam barzakh, yaitu Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Abdullah Alaydrus. Yang kedua, engkau sudah pernah melihatnya pada saat engkau masih kecil, yaitu Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Abdullah Alatas. Dan yang ketiga, engkau akan melihatnya di akhir umurmu”.

Ketika usia murid tersebut sudah menginjak usia senja, ia bermimpi melihat Nabi SAW 5 kali dalam waktu 5 malam berturut-turut. Dalam mimpinya itu, Nabi SAW berkata kepadanya, “(terdapat kebenaran) bagi yang melihatku di setiap kali melihat. Kami telah hadapkan kepadamu cucu yang sholeh, yaitu Abubakar bin Muhammad Assegaf. Perhatikanlah ia”.

Murid tersebut sebelumnya belum pernah melihat Habib Abubakar, kecuali di mimpinya itu. Setelah itu ingatlah ia dengan perkataan gurunya, Al-Habib Ali Alhabsyi, “Lihatlah mereka itu, 3 wali min auliyaillah…”. Tidak lama setelah kejadian mimpinya itu, ia pun meninggal dunia, persis sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Habib Ali bahwa ia akan melihat Habib Abubakar di akhir umurnya.

Setelah menuntut ilmu disana, pada tahun 1302 H beliau pun akhirnya kembali ke pulau Jawa bersama Habib Alwi bin Saggaf Assegaf, dan menuju kota Besuki. Disinilah beliau mulai mensyiarkan dakwah Islamiyyah di kalangan masyarakat. Kemudian pada tahun 1305 H, disaat usia beliau masih 20 tahun, beliau pindah menuju kota Gresik.

Di pulau Jawa, beliaupun masih aktif mengambil ilmu dan manfaat dari ulama-ulama yang ada disana saat itu, diantaranya yaitu :

Al-Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Bogor)

Al-Habib Abdullah bin Ali Alhaddad (wafat di Jombang)

Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas (Pekalongan)

Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Umar Bin Yahya (Surabaya)

Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya)

Al-Habib Muhammad bin Ahmad Almuhdhor (wafat di Surabaya)

Pada suatu hari disaat menunaikan shalat Jum’at, datanglah ilhaamat rabbaniyyah kepada diri beliau untuk ber- uzlah dan mengasingkan diri dari keramaian duniawi dan godaannya, menghadap kebesaran Ilahiah, ber-tawajjuh kepada Sang Pencipta Alam, dan menyebut keagungan nama-Nya di dalam keheningan. Hal tersebut beliau lakukan dengan penuh kesabaran dan ketabahan.

Waktu pun berjalan demi waktu, sehingga tak terasa sudah sampai 15 tahun lamanya. Beliau pun akhirnya mendapatkan ijin untuk keluar dari uzlahnya, melalui isyarat dari guru beliau, yaitu Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi. Berkata Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi, “Kami memohon dan ber-tawajjuh kepada Allah selama 3 malam berturut-turut untuk mengeluarkan Abubakar bin Muhammad Assegaf dari uzlahnya”. Setelah keluar dari uzlahnya, beliau ditemani dengan Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi berziarah kepada Al-Imam Al-Habib Alwi bin Muhammad Hasyim Assegaf.

Sehabis ziarah, beliau dengan gurunya itu langsung menuju ke kota Surabaya dan singgah di kediaman Al-Habib Abdullah bin Umar Assegaf. Masyarakat Surabaya pun berbondong-bondong menyambut kedatangan beliau di rumah tersebut. Tak lama kemudian, Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi berkata kepada khalayak yang ada disana seraya menunjuk kepada Habib Abubakar, “Beliau adalah suatu khazanah daripada khazanah keluarga Ba’alawi. Kami membukakannya untuk kemanfaatan manusia, baik yang khusus maupun yang umum”.

Semenjak itu Habib Abubakar mulai membuka majlis taklim dan dzikir di kediamannya di kota Gresik. Masyarakat pun menyambut dakwah beliau dengan begitu antusias. Dakwah beliau tersebar luas…dakwah yang penuh ilmu dan ikhlas, semata-mata mencari ridhallah. Dalam majlisnya, beliau setidaknya telah mengkhatamkan kitab Ihya Ulumiddin sebanyak 40 kali. Dan merupakan kebiasaan beliau, setiap kali dikhatamkannya pembacaan kitab tersebut, beliau mengundang jamuan kepada masyarakat luas.

Beliau adalah seorang yang ghirahnya begitu tinggi dalam mengikuti jalan, atribut dan akhlak keluarga dan Salafnya Saadah Bani Alawi. Majlis beliau senantiasa penuh dengan mudzakarah dan irsyad menuju jalan para pendahulunya. Majlis beliau tak pernah kosong dari pembacaan kitab-kitab mereka. Inilah perhatian beliau untuk tetap menjaga thoriqah salafnya dan berusaha berjalan diatas… qadaman ala qadamin bi jiddin auza’i.

Itulah yang beliau lakukan semasa hayatnya, mengajak manusia kepada kebesaran Ilahi. Waktu demi waktu berganti, sampai kepada suatu waktu dimana Allah memanggilnya. Disaat terakhir dari akhir hayatnya, beliau melakukan puasa selama 15 hari, dan setelah itu beliau pun menghadap ke haribaan Ilahi. Beliau wafat pada tahun 1376 H pada usia 91 tahun. Jasad beliau disemayamkan di kompleks Masjid Jami Gresik (Sebelah barat Alon-alon Gresik.

Walaupun beliau sudah berpulang ke rahmatillah, kalam-kalam beliau masih terdengar dan membekas di hati para pendengarnya. Akhlak-akhlak beliau masih menggoreskan kesan mendalam di mata orang-orang yang melihatnya. Hal-ihwal beliau masih mengukir keindahan iman di kehidupan para pecintanya.

Radhiyallahu anhu wa ardhah…

REFERENSI

Manaqib Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Muhammad Assegaf.

Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Muhammad Syamsu Assegaf.

Sebuah perjalanan religius seorang kekasih Allah hingga maqom Shiddiqiyyah Kubro

Beliau adalah Al-Imam al-Quthbul Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Abu Bakar bin Al-Habib Umar bin Segaf as-Segaf (seorang imam di lembah Al-Ahqof). Garis keturunan beliau yang suci ini terus bersambung kepada ulama dari sesamanya hingga bermuara kepada pemuka orang-orang terdahulu, sekarang dan yang akan datang, seorang kekasih nan mulia Nabi Muhammad S.A.W. Beliau terlahir di kampung Besuki (salah satu wilayah di kawasan Jawa Timur) tahun 1285 H. Ayahanda beliau ra. wafat di kota Gresik, sementara beliau masih berumur kanak-kanak.

Sungguh al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf tumbuh besar dalam asuhan dan penjagaan yang sempurna. Cahaya kebaikan dan kewalian telah tampak dan terpancar dari kerut-kerut wajahnya, sampai-sampai beliau R.a di usianya ke-3 tahun mampu mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada dirinya. Semua itu tak lain karena power (kekuatan) dan kejernihan rohani beliau, serta kesiapannya untuk menerima curahan anugerah dan Fath (pembuka tabir hati) darinya.

Pada tahun 1293 H, atas permintaan nenek beliau yang sholehah Fatimah binti Abdullah (Ibunda ayah beliau), beliau merantau ditemani oleh al-Mukaram Muhammad Bazamul ke Hadramaut meninggalkan tanah kelahirannya Jawa. Di kala al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf akan sampai di kota Sewun, beliau di sambut di perbatasan kota oleh paman sekaligus guru beliau al-Allamah Abdullah bin Umar berikut para kerabat. Dan yang pertama kali dilantunkan oleh sang paman bait qosidah al-Habib al-Arifbillah Syeh bin Umar bin Segaf seorang yang paling alim di kala itu dan menjadi kebanggaan pada jamannya. Dan ketika telah sampai beliau dicium dan dipeluk oleh pamannya. Tak elak menahan kegembiraan atas kedatangan sang keponakan dan melihat raut wajahnya yang memancarkan cahaya kewalian dan kebaikan berderailah air mata kebahagiaan sang paman membasahi pipinya.

Hati para kaum arifin memiliki ketajaman pandang
Mampu melihat apa yang tak kuasa dilihat oleh pemandang.

Sungguh perhatian dan didikan sang paman telah membuahkan hasil yang baik pada diri sang keponakan. Beliau belajar kepada sang paman al-Habib Abdullah bin Umar ilmu fiqh dan tasawuf, sang paman pun suka membangunkannya pada akhir malam ketika beliau masih berusia kanak-kanak guna menunaikan shalat tahajjud bersama-sama, al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mempunyai hubungan yang sangat kuat dalam menimba ilmu dari para ulama dan pemuka kota Hadramaut. Sungguh mereka (para ulama) telah mencurahkan perhatiannya pada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Maka beliau ra. Banyak menerima dan memparoleh ijazah dari mereka. Diantara para ulama terkemuka Hadramaut yang mencurahkan perhatiannya kepada beliau, adalah al-Imam al-Arifbillah al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, (seorang guru yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf).

Sungguh Habib Ali telah menaruh perhatiannya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf semenjak beliau masih berdomisili di Jawa sebelum meninggalkannya menuju Hadramaut.

Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata kepada salah seorang murid seniornya “Perhatikanlah! Mereka bertiga adalah para wali, nama, haliyah, dan maqom (kedudukan) mereka sama. Yang pertama adalah penuntunku nanti di alam barzakh, beliau adalah Quthbul Mala al-Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Aidrus, yang kedua, aku melihatnya ketika engkau masih kecil beliau adalah al-Habib al-Ghoust Abu Bakar bin Abdullah al-Atthos, dan yang ketiga engkau akan melihat sendiri nanti di akhir dari umurmu”.

Maka tatkala memasuki tahun terakhir dari umurnya, ia bermimpi melihat Rosulullah SAW sebanyak lima kali berturut-turut selama lima malam, sementara setiap kali dalam mimpi Beliau SAW mengatakan kepadanya (orang yang bermimpi) ” Lihatlah di sampingmu, ada cucuku yang sholeh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf”! Sebelumnya orang yang bermimpi tersebut tidak mengenal al-Habib Abu Bakar Assegaf kecuali setelah dikenalkan oleh Baginda Rosul al-Musthofa SAW didalam mimpinya. Lantas ia teringat akan ucapan al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi dimana beliau pernah berkata “Mereka bertiga adalah para wali, nama dan kedudukan mereka sama”. Setelah itu ia (orang yang bermimpi) menceritakan mimpinya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf dan tidak lama kemudian ia meninggal dunia.

Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mendapat perhatian khusus dan pengawasan yang istimewa dari gurunya al Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi sampai-sampai Habib Ali sendiri yang meminangkan beliu dan sekaligus menikahkannya. Selanjutnya (diantara para masyayikhnya) adalah al Allamah al Habib Abdullah bin Umar Assegaf sebagai syaikhut tarbiyah, al Imam al Quthb al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi sebagai syaikhut taslik, juga al Mukasyif al Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Quthban sebagai syaikhul fath. Guru yang terakhir ini sering memberi berita gembira kepada beliau “Engkau adalah pewaris haliyah kakekmu al Habib Umar bin Segaf”. Sekian banyak para ulama para wali dan para kaum sholihin Hadramaut baik itu yang berasal dari Sewun, Tarim dan lain-lain yang menjadi guru al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, seperti al Habib Muhammad bin Ali Assegaf, al Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, al Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas, al Habib Abdurrahman al-Masyhur, juga putera beliau al Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur, dan juga al Habib Syekh bin Idrus al-Idrus dan masih banyak lagi guru beliau yang lainnya.

Pada tahun 1302 H, ditemani oleh al Habib Alwi bin Segaf Assegaf al Habib Abu Bakar Assegaf pulang ketanah kelahirannya (Jawa) tepatnya di kampung Besuki. Selanjutnya pada tahun 1305 H, ketika itu beliau berumur 20 tahun beliau pindah ke kota Gresik sambil terus menimba ilmu dan meminta ijazah dari para ulama yang menjadi sinar penerang negeri pertiwi Indonesia, sebut saja al Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas, al Habib Abdullah bin Ali al-Haddad, al Habib Ahmad bin Abdullah al-Atthas, al Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya, al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi,al Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdlar, dan lain sebagainya.

Kemudian pada tahun 1321 H, tepatnya pada hari jum’at ketika sang khatib berdiri diatas mimbar beliau r.a mendapat ilham dari Allah SWT bergeming dalam hatinya untuk mengasingkan diri dari manusia semuanya. Terbukalah hati beliau untuk melakukannya, seketika setelah bergeming beliau keluar dari masjid jami’ menuju rumah kediamannya. Beliau al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ber-uzlah atau khalwat (mengasingkan diri) dari manusia selama lima belas tahun bersimpuh dihadapan Ilahi Rabbi. Dan tatkala tiba saat Allah mengizinkan beliau untuk keluar dari khalwatnya, guru beliau al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi mendatanginya dan memberi isyarat kepada beliau untuk mengakhiri masa khalwatnya, al Habib Muhammad al-Habsyi berkata “selama tiga hari kami bertawajjuh dan memohon kepada Allah agar Abu Bakar bin Muhammad Assegaf keluar dari khalwatnya”, lantas beliau menggandeng al Habib Abu Bakar Assegaf dan mengeluarkannya dari khalwatnya. Kemudian masih ditemani al Habib Muhammad al-Habsyi beliau r.a menziarahi al Habib Alawi bin Muhammad Hasyim, sehabis itu meluncur ke kota Surabaya menuju ke kediaman al Habib Abdullah bin Umar Assegaf. Sambil menunjuk kepada al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi memproklamirkan kepada para hadirin “Ini al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf termasuk murtiara berharga dari simpanan keluarga Ba ‘Alawi, kami membukanya agar bisa menularkan manfaat bagi seluruh manusia”.

Setelah itu beliau membuka majlis ta’lim dirumahnya, beliau menjadi pengayom bagi mereka yang berziarah juga sebagai sentral (tempat rujukan) bagi semua golongan diseluruh penjuru, siapa pun yang mempunyai maksud kepada beliau dengan dasar husnudz dzan niscaya ia akan meraih keinginannya dalam waktu yang relatif singkat. Di rumah beliau sendiri, al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf telah menghatamkan kitab Ihya’ Ulumuddin lebih dari 40 kali. Pada setiap kali hatam beliau selalu menghidangkan jamuan yang istimewa. al Habib Abu Bakar Assegaf betul-betul memiliki ghirah (antusias) yang besar dalam menapaki aktivitas dan akhlaq para aslaf (pendahulunya), terbukti dengan dibacanya dalam majlis beliau sejarah dan kitab-kitab buah karya para aslafnya.

Adapun maqom (kedudukan) al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, beliau telah mencapai tingkat Shiddiqiyah Kubro. Hal itu telah diakui dan mendapat legitimasi dari mereka yang hidup sezaman dengan beliau. Berikut ini beberapa komentar dari mereka.

al Imam al Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar berkata,

“Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil. Sungguh al Akh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah mutiara keluarga Segaf yang terus menggelinding (maqomnya) bahkan membumbung tinggi menyusul maqom-maqom para aslafnya”.

Al Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad berkata,

“Sesungguhnya al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang Quthb al Ghaust juga sebagai tempat turunnya pandangan (rahmat) Allah SWT”.

Al Arif billah al Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi pernah berkata di rumah al Habib Abu Bakar Assegaf dikala beliau membubuhkan tali ukhuwah antara beliau dengan al Habib Abu Bakar Assegaf, pertemuan yang diwarnai dengan derai air mata. Habib Ali berkata kepada para hadirin ketika itu,

“Lihatlah kepada saudaraku fillah Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Lihatlah ia..! Maka melihat kepadanya termasuk ibadah”

Al Habib Husein bin Muhammad al-Haddad berkata,

“Sesungguhnya al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah. Beliau adalah penguasa saat ini, belia telah berada pada Maqom as Syuhud yang mampu menyaksikan (mengetahui) hakekat dari segala sesuatu. Beliau berhak untuk dikatakan “Dia hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya (sebagai nikmat)”.

-Wahyu Firmansyah-
@Fireboysyah


http://ahlussunahwaljamaah.wordpress.com/manakib/al-habib-al-qutub-abubakar-bin-muhammad-assegaf/

GIRI KEDATON

GIRI KEDATON

Secara administrative situs Giri Kedaton terletak di Dusun Kedaton, Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur.
Dalam Babad Gresik ( BHG ) disebutkan Raden Paku mendirikan “Kedaton Tondo Pitu “ yaitu bangunan istana bertingkat tujuh diatas sebuah bukit yang dikenal bernama "Giri Kedaton".
Peristiwa pembangunan kedaton ini diambil dengan Candra sangkala yang berbunyi “ Sumedya Resik Ker Wulu “ yaitu menunjukkan angka tahun 1408 Saka atau 1486 Masehi, sejak itu, Raden Paku bergelar Sunan Giri atau Rajah Bukit. Satu tahun kemudian Sunan Giri, diangkat menjadi Nata (Kepala Pemerintahan ) dengan gelar Prabu Samudra, dan sebagai Pandita (PemimpinUmat Islam ) dengan gelar Tetanggul Khalifatul Mukminin. Pengangkatan Sunan Giri menjadi Nata dan Pandita ini ditandai dengan Candra Sangkala berbunyi Trusing Luhur Dadi Hajiyang menunjukkan angka tahun 1400 Saka, 1437 Masehi.
Giri Kedaton berfungsi sebagai pusat pemerintahan maupun penyebaran agama Islam.
Para santri yang belajar berasal dari Jawa, Madura, Banjarmasin, Ternate, Tedore, Bima Hitu ( Philipina ) dan dari penjuru nusantara lainnya.
Sunan Giri wafat pada tahun 1438 Suku atau tahun 1506 Masehi, jasad beliau dimakamkan di bukit Giri Gajah yang terletak kurang lebih 500 meter disebelah barat dari situs Giri Kedaton.
Sepeninggal Sunan Giri, kedudukan beliau digantikan oleh keturunan / dinasti giri, antara lain :
1. Sunan Dalem , tahun 1505-1545 Masehi
2. Pangeran Sidomargi, tahun 1545 – 1548 Masehi
3. Sunan Prapen atau dikenal dengan nama Anumerta Sunan Prapen atau Sunan Mas Ratu Pratikel, tahun 1458 – 1605 Masehi, Sunan Prapen adalah Raja Giri yang paling besar setelah Sunan Giri.
4. Panembahan Guwa, tahun 1605 – 1616 Masehi
5. Panembahan Agung, tahun 1616 – 1636 Masehi
6. Panembahan Mas Witana
Pemerintahan Giri Kedaton mengalami kemunduran setelah mendapat serangan Amangkurat I dan II dari kerajaan Mataram di Jawa tengah yang berkoalisi dengan VOC, dan benar-benar runtuh pada bulan April tahun 1680 Masehi, setelah itu Giri Kedaton diperintah oleh orang-orang yang bukan keturunan / dinasti giri, tetapi orang-orang atas perintah Mataram antara lain :
1. Pangeran Puspa Ita, tahun 1660 Masehi
2. Pangeran Wira, tahun 1703 Masehi
3. Pangeran Singanegara, tahun 1703 – 1725 Masehi
4. Pangeran Singasari, tahun 1725 – 1743 Masehi
Kegiatan pelestarian dan konservasi situs Giri Kedaton dilakukan berdasarkan kerjasama Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan wilayah kerja Propinsi Jawa Timur dengan Dinas Pendidikan Nasional, Pemerintah Kabupaten Gresik, Tahap I – IV tahun anggaran 2002 – 2005. Dalam kegiatan inidilakukan pemetaan, eskavasi / pengupasan tanah, studi kelayakan pugar, studi teknis, pemugaran, konservasi dan penataan lingkungan.
Situs Giri Kedaton adalah sebuah bukit yang dibuat berteras-teras atau berundak-undak, semakin keatas semakin mengecil, untuk sementara ditemukan lima teras / undakan.
Antara teras yang satu dengan teras yang lainnya ditandai struktur dinding teras yang bentuknya seperti kaki dan tubuh candi. Kaki struktur polos, sedangkan tubuh struktur bermotif hias pelipit-pelipit datar, bingkai cermin dan bidang persegi panjang.
Secara arsitektural bangunan di situs Giri Kedaton ini bertipe bangunan teras berundak.
Arah hadap bangunan menghadap kearah Timur, ditandai pintu utama berada di sisi Timur.
Konsep bangunan ini merupakan kelanjutan tradisi masa sebelumnya, yaitu bangunan punden berundak masa pra sejarah dan bangunan candi Hindu-Budha di Indonesia.
Dibeberapa halaman dinding teras terdapat fasilitas bangunan antara lain :
1. Dihalaman dinding teras II utara terdapat struktur kolam wudlu utara.
2. Dihalaman dinding teras III timur terdapat struktur pelinggihan dan kolam wudlu selatan

Selain itu masih terdapat peninggalan lainnya, yaitu dihalaman lereng timur terdapat makam Mpu Supo, pembuat keris Kala Munyeng milik Sunan Giri. Dihalaman lereng barat,adalah cungkup dan makam Raden Supeno, putra Sunan Giri. Dibeberapa halaman teras terdapat kelompok makam kuno yang belum diketahui
.


-Wahyu Firmansyah-
@Fireboysyah

Sumber : Dikelolah dari berbagai data

RADEN SANTRI

RADEN SANTRI


Sayyid Ali Murtadho "Sunan Gisik" atau lebih dikenal Raden Santri merupakan kakak kandung Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel). Beliau merupakan putra Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan (Putri Raja Campa). Beliau juga merupakan keponakan Dewi Dwarawati (Ratu Majapahit) yang merupakan istri Prabu Brawijaya.
Dalam menyebarkan agama Islam, Sayyid Ali Murtadho melakukan perjalanan dakwah ke tanah Jawa bersama ayah dan adiknya. Sebagaimana disebutkan diatas, ayah Sayyid Ali Murtadho adalah Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan adiknya bernama Sayyid Ali Rahmatullah. Diduga mereka tidak langsung ke Majapahit, melainkan mendarat di Tuban dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Akan tetapi, tepatnya di desa Gesikharjo, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan meninggal dunia, beliau dimakamkan di desa tersebut yang masih termasuk kecamatan Palang Kabupaten Tuban.
Selanjutnya Sayyid Ali Murtadho meneruskan perjalanannya, beliau berdakwah keliling ke daerah Madura disini beliau mendapat sebutan "Sunan Lembayung". Beliau juga berdakwah di Nusa Tenggara hingga ke Bima, disana beliau mendapat sebutan Raja Pandhita Bima. Banyak diantara keturunan beliau menjadi penyebar agama Islam dan juga raja baik di Madura maupun di Nusa Tenggara. Dalam rantai silsilah Raja Bima yang tercantum dalam Bo’ sangaji Kai, beserta penjelasan-penjelasannya, kita akan dibuat sedikit terkejut dengan munculnya nama-nama dan istilah islam yang disebutkan. Hal ini dapat dijumpai pada kepemimpinan Rumata Mawa’a Bilmana. Jadi sebelum Abdul Kahir I, kerajaan Bima pernah dipimpin oleh seorang Raja Muslim, yakni Sayyid Ali Murtadho sendiri. Nama beliau kurang terekam secara maknawiyah dalam dialek Bima saat itu, karena catatan mengenai beliau justru ada dalam riwayat resmi keturunan para walisongo. Dalam catatan sejarah menjelaskan bahwa beliau merupakan penyebar agama Islam pertama di Nusa Tenggara Barat yang kelak menjadi pondasi cikal bakal kerajaan Bima yang bernafaskan Islam “Ahlussunah wal Jama’ah”.
Setelah berhasil mengIslamkan daerah Madura dan Nusa Tenggara yang masyarakatnya semula kental suasana Budha dan Hindhu, Sayyid Ali Murtadho diminta kembali ke Gresik. Pada 9 April 1419 Syekh Maulana Malik Ibrahim Wafat, beliau menggatikan peran Syekh Maulana Malik Ibrahim sebagai imam penyebaran Islam di Gresik. Beliau berdakwah di Gresik mendapat beberapa sebutan yakni “Raja Pandhita Wunut” serta sebutan yang sangat melekat dan banyak dikenal masyarakat adalah “Raden Santri”. 
Raden Santri” menikah dengan Rara Siti Taltun atau RA. Madu Retno binti Aryo Baribin dan mempunyai 4 anak bernama Usman Haji (Sunan Ngudung) , Haji Usman, Nyai Gede Tundo, dan Ali Musytar. selanjutnya Usman Haji setelah dewasa meminang putri Tumenggung Wilwatikta dan mempunyai anak bernama Amir Haji atau Dja’far Sodiq atau (Sunan Kudus), dan Dewi Sujinah. Haji Usman menikah dengan Siti Syari’at mempunyai anak bernama Amir Hasan (Sunan Manyuran). Sedangkan Nyai Gede Tundo menikah dengan Kholifah Husain (Sunan Kertoyoso) mempunyai anak Kholifah Suhuroh. Selain Rara Siti Taltun, Raden Santri juga menikah dengan Dyah Retno Maningjum Binti Arya Tejo.
Raden Santri wafat pada tahun 1317 Saka / 1449 M atau bertepatan dengan 15 Muharam abad ke-8 Hijriyah. Haul beliau diperingati setiap tanggal 15 Muharram. Beliau dimakamkan di desa Bedilan, kecamatan Gresik, kabupaten Gresik. Makam beliau hanya berjarak 100 M utara Alon-alon Gresik, atau hanya berjarak 200 M utara makam Syekh Maulana Malik Ibrahim.

SILSILAH  “RADEN SANTRI”

1.            Sayyid Ali Murtadho “RADEN SANTRI” bin
2.            Maulana Ibrahim Asmarakandi bin
3.            Syaikh Jumadil Qubro / Jamaluddin Akbar Khan bin
4.            Ahmad Jalaludin Khan bin
5.            Abdullah Khan bin
6.            Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
7.            Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
8.            Muhammad Sohibul Mirbath (Hadhramaut)
9.            Ali Kholi' Qosam bin
10.         Alawi Ats-Tsani bin
11.         Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
12.         Alawi Awwal bin
13.         Ubaidillah bin
14.         Ahmad al-Muhajir bin
15.         Isa Ar-Rumi bin
16.         Muhammad An-Naqib bin
17.         Ali Uraidhi bin
18.         Ja'far ash-Shadiq bin
19.         Muhammad al-Baqir bin
20.         Ali Zainal Abidin bin
21.         Imam Husain bin
22.         Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra bin
23.         NABI MUHAMMAD SAW


-Wahyu Firmansyah-
@Fireboysyah

Sumber :
Penuturan Juru Kunci “Bapak Syahroni”
Cerita Sejarawan Gresik “KH Mukhtar Jamil”
Cerita dari sesepuh masyarakat asli sekitar makam Raden Santri

Dikelolah dari berbagai data